Lelaki Penyayang Kucing

Hari ini seperti biasa, setelah melewati perjalanan darat kurang lebih 4 jam lamanya, di perbatasan  kota, Gowa-Makassar, mata saya tertuju pada sesosok lelaki. Posturnya seperti lelaki pada umumnya, dia tidak berkumis, namun memiliki cambang tipis. Di tangan kanannya terdapat sebatang rokok yang sesekali dia isap. Namun bukan hal itu yang membuat saya tertarik. Mata Saya tertuju pada apa yang berada pada tangan kirinya. Yah.. Seekor kucing. Berwarna putih orange. Kucing lokal yang kelihatannya masih belia tampak nyaman digendong olehnya. Lelaki itu berdiri disamping mobil sambil sesekali menengok ke arah kucing. Terlihat senyum tipis dari wajahnya setiap melihat kucing tersebut.

Entah mengapa, saya akan selalu tersenyum setiap melihat pemandangan seperti itu. Sosok laki-laki yang suka kucing, terlihat begitu hangat dan menarik. Kucing saja dia sayangi apalagi kamu. #ehh

***

Read More

Saya ingin kesana


Lagi-lagi perasaan ini muncul kembali. Perasaan yang tak bisa ku diskripsikan dengan kata-kata. Perasaan ini akan muncul tiba-tiba, ketika melihat teman teman yang kukenal, teman yang begitu dekat diberikan rejeki mengunjungi negara-negara yang sangat ingin kudatangi. Dan hal ini akan selalu menjadikan motivasi bagi saya.

Saya ingin kesana, Ya Allah bawa saya kesana.

***

Kendari, 3 Maret 2015
Ternyata sudah sebulan saya disini.

Jatuh & Minyak Tawon di TMII

"Sari, klo turun dari Bus kaki kiri kamu yang turun duluan yah. Klo kaki kanan, nanti kamu jatuh" wejangan Ephy...

Dan hari ini saya mengalaminya. Bus tidak beneran berhenti, dan si kernetnya menyarankan untuk segera turun, otak saya langsung mengingat pesan yang diberikan Ephy, "kaki kiri yang duluan turun", namun dilain pihak saya mengingat kalau beberapa minggu yang lalu kaki kiri saya ini baru sembuh dari keseleo. Alhasil, saya mengambil keputusan untuk menurunkan kaki kanan terlebih dahulu.

Dan tadaaaaaaa,, Jatuh lah saya.
Read More

Karena Sikap Kita Tidak Bisa Berbohong

Beberapa hari yang lalu, disebuah cafe, Saya dan Kawan sedang berbincang-bincang. Hari itu saya sedang ada masalah. Dia adalah tempat saya menceritakan segala hal tentang apa yang saya alami. Dengan gaya khasnya, dia selalu menghibur saya, selalu sabar menghadapi saya, dia adalah teman baku gea saya yang bijak dan baik hati dan akan selalu kusayangi (ceilehhh.. syahduna deh #blush). Ketika saya mengatakan "Baikan ma", dia tidak mempercayai perkataan saya karena dia tahu saya sedang berbohong. Namun tidak dengan tingkah laku, senyum, tawa, serta saya kembali menjahilinya adalah bukti bahwa saya benar-benar sudah baikan. hihihi...

Yap.. Perilaku, sikap, tingkah laku, perbuatan yang menunjukkan diri kita apakah kita sedang sedih atau senang ini tidak akan bisa berbohong. Beda halnya dengan mulut yang gampang bersilat lidah.

Kembali teringat quote tentang Ikhlas







So guys, jika kalian benar-benar ikhlas, ayo tunjukkan dengan perbuatan kalian. 
Percuma deh berkoar-koar saya ikhlas, saya baik-baik saja, saya senang kok, saya bahagia, move on ma (upss... :p), namun perbuatan yang kita tunjukkan itu berbeda dengan apa yang kita katakan di atas.

Ingat lah Talk Less Do More !!!

Apa yang akan kamu lakukan jika menemukan dompet/uang dijalanan???

Pagi ini, ketika pulang dari membeli bohlam di toko elektronik depan kompleks, saya menemukan selembar uang 5.000 terlipat-lipat di jalanan. Spontan saja saya lalu memungut uang tersebut. Apa yang akan saya lakukan selanjutnya dengan uang tersebut? Apakah saya akan membelanjakannya atau memasukkannya ke kotak amal mesjid? :D

Teringat kejadian yang pernah saya alami. Bahwa hukum karma itu ada.. Apa yang kau perbuat akan mendapatkan balasannya. Dan apalagi  Allah SWT telah mengingatkan dalam Al Qur’an bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan akan mendapat balasan dari-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al Zaljalah : 7-8  “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar  dzarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya juga“.

***

Tahun 2009

Hari itu saya dengan kakak saya; Dyla baru saja pulang dari rumah nenek. Seperti biasa untuk mencapai rumah kami harus melewati pasar Antang. Saya yang mengemudikan motor melihat sebuah dompet tergeletak di tengah jalan depan pasar Antang. Entahlah, naluri saya menyuruh saya untuk menepi dan mengambil dompet itu. Niat nya apa? cuma pengen tahu, kali aja masih ada yang bisa saya bantu selamatkan. xixixi... :devil:

Read More